Berobat ke Penang

Setelah Felicia Mami Papa yang berobat ke Penang, sekarang giliran madam yang melakukan langkah yang sama. Sebelumnya karena agak-agak putus asa dengan penanganan anak alergi disini sih. Tanpa berusaha menjelekkan pihak siapapun tapi kalaupun bisa memilih, berobat di negara sendiri tentulah secara ekonomis akan lebih baik. Buat yang belum tahu, Charmaine terlahir dengan riwayat alergi. Semenjak lahir dermatitis atopi yang menyerang Charm cukup parah.  Tanpa diberi tahu anak itu alergi apa, semua ilmu dan nasihat yang diberikan oleh DSA hanya berdasarkan observasi dan coba-coba.

Di usia dua tahun Charmaine sudah tidak begitu merah-merah lagi kulitnya, selama ini saya menganggap kalau alergi terlihat di kulit jadi ya masih bisa disembuhkan dengan salep-salep deh pikirnya.  Serangan pertama asma terjadi di usia 3 tahun saat kita pergi ke Bandung. Entah karena kamar yang tidak bersih atau apa, tiba-tiba dia batuk tak berhenti sepanjang malam. Saat itupun dsa tidak menyarankan untuk tes alergi. Pengobatan diberikan hanya berupa terapi nebu, obat-obat minum dan penyinaran. Memang ga tiap hari sih kejadiannya tapi sedih rasanya melihat Charm mengenal macam macam obat dan kurus padahal makannya tidak susah.

Saat serangan kedua, Charm akhirnya dibawa ke klinik alergi di tanah abang. Disana penanganannya sama sih kaya DSA diberi obat, diuap dan kalau parah disuntik. Solusinya instan dan diberikan saat sudah terjadi tapi masak begini terus. Saat itu kita bertanya musti ngapain Dok? Dijawab dengan “Ya.. dijaga…” As if itu bukan anak saya yang ga pernah dijaga. Saya pun galau.

Puncak kesedihan adalah saat musim pancaroba yang ga jelas di Jakarta di tahun 2013. Dimana saat siang bisa panas ga jelas dan diikuti dengan hujan lebat di sore hari. Debu bisa dilawan, makanan bisa dihindari namun kalau cuaca siapa yang bisa berkuasa. Baik klinik alergi maupun DSA langganan tidak bisa menjawab dan hanya meresepkan obat dan antibiotik. Berputar mencari cara, papi dan madam memutuskan untuk mencari jawaban ke negeri seberang, siapa tahu memang ada kemajuan di dunia medis saat ini. Kenapa pilih Penang? Saat itu diberi pencerahan oleh Xiao Yan katanya di Penang ada dokter anak spesialis alergi. Yuk.. mari kita berangkat.

Berangkat pertama kali kita pergi berempat, sekalian mau ajak Jeremy jalan-jalan. Masak anak ganteng itu ditinggal terus mana bisa dipamer kegantengannya iya ga? Rumah sakit yang dipilih adalah :

LohGuanLye SPECIALISTS CENTRE
238, Macalister Road, 10400 Penang, Malaysia.
19 & 21, Logan Road, 10400 Penang, Malaysia.

Jakarta Contacts
Person-in-charge: Ms Imelda
Telephone: +6221-5698 3677
Mobile: +6221-9797 3677

Dokternya bernama dr. Selapan (keturunan India komunikasi dengan bahasa Inggris or Melayu is ok).

Karena jadwal dokter itu baru bisa dikonfirm satu atau dua minggu sebelumnya, tentu kita ga bisa beli tiket promo yang belinya harus beberapa bulan di muka. Sementara tiket ke Penang sendiri buat yang direct hanya ada Air Asia. Kalau belinya deket-deket, harganya bisa bikin mikir ulang deh kalau pergi berempat. Jadinya, papi saat itu memilih pergi dari KL yang sering promo pake Mandala 400rb/orang. Tiba di LCCT Kuala Lumpur, kita ke Penang dengan rental mobil. Kisah bolang dan cara rental mobil ini bisa di baca di sini.

 

my-penang-bridge-road

Jalanannya KL-Penang sih mulus banget. Cuma matahari di KL ga kira-kira oi. Mana mobil sewaan ga ada kaca film lagi. Jadi bener-bener panas banget di dalem. Sempet berenti berapa kali buat makan dan beli snack serta pipis. Akhirnya kalo ga salah setelah berkendara 3 jam (dengan banyak stop) dan sempat ada accident di jembatan butterworth jadi agak macet. Hotel kita adalah Four Points by Sheraton yang ada di Tanjung Bunga jadi dapet pantai.  Karena punya mobil, nginap di hote jauhan ga masalah. Lagian hotel di sekitar RS ratenya agak tinggi.

Oya .. sebelumnya ijinkan mo jualan dulu yaaaa.. untuk trip kali ini biar ga ribet koper kita cuma 1 gede dan 1 hand baggage. Karena temanya pantai baju bapak emaknya cukup kaos tipis plus celana pendek ajah selebihnya baju anak juga tipis-tipis. Ga ada rencana bawa oleh-oleh juga jadi sementara 1 koper bisa muat. Untuk hand baggagenya perkenalkan si super “okiedog shuttle” dengan kompartmen SUPER GEDE dan kantong yang SUPER BANYAK bikin semua bisa numplek di dalamnya. Mau punya juga? Bisaaaa beli ya beli ya beli yaaa 😀 😀

 

shuttle inside

okiedog-3139-707641-1-zoom

 

 

IMG_4180

 

KLINIK ALERGI (November 2013)

Gedung Rumah Sakit benernya ada 2 gedung lama dan gedung baru. Karena baru pertama kita ga ngerti kita masuk ke gedung baru yang gedean. Eh, ternyata musti jalan jauh ke gedung lamanya. Benernya ini bukan klinik alergi sih tapi dr. Selapan itu adalah dokter anak spesialis alergi. Jadi, beliau juga menangani anak sakit biasa. Pas dateng sempat ada experience ga enak karena kita disuruh dateng jam 8 tapi entah kenapa dokter baru dateng jam 11-an. Prosedur sempat agak ga jelas karena mungkin masih baru kali ya (tapi sesudah kontrol kedua-ketiga ga lagi kok). Pokoknya sempet illfeel karena ketidakjelasan ini. Pas dokternya datang, Charm langsung diperiksa. Pas nimbang, commentnya underweight. Kemudian hidungnya diteropong pake selang berkamera gitu (ga tau namanya apa) pokoknya dia liatnya via monitor bukan pke senter. Dokternya pun berkomentar “Oh, it’s sinus” .

Habis itu, dokter mau test lagi dengan skin prick. Sebelum test dia tanya malam sebelumnya ada konsumsi obat ga? Gw bilang ada karena malam sebelumnya itu kayaknya AC kamar kedinginan dan dia batuk ga berenti. Karena gw takut dia asmanya kumat, gw kasih obat batuk.  Kekesalan hari itu bertambah masak sudah nunggu berjam-jam disuruh pulang. Pengen nangis deh. Ya mau diapain lagi? Terpaksalah diikutin.

Hari kedua kita balik lagi buat skin prick test. Tadinya mau test darah juga tapi karena di klinik Tanah Abang sudah test darah kita tanya dokternya masih valid ga. Untungnya masih lho. Jadinya cuma skin prick test deh. Tesnya sendiri cuma 30 menit. Tadinya sudah takut bakal reaksi sama alergen banyak eh taunya cuma 2 lho. PUJI TUHAN. Charm ga alergi makan tapi alergi sama dust mites untuk nafas dan kulit.

Hasil skin prick test bisa diliat bentolnya keluar di angka 3 dan 4

 

Pengobatannya cukup simple. Dia cuma bilang kamarnya sering dibersihin divakum. Ranjang ganti jadi athlete mat (kasur atlet) yang tipis. Karena ini ga mungkin, kita tanya kalo latex bagaimana? Dia bilang boleh dicoba. Percaya ato ga hari itu kita pulang dengan bawa Cetrizine dan satu obat bubuk untuk pengencer dahak. Pesimis? YA BANGET! Karena kalau begitu di Indonesia juga ada bukan? Terus bagaimana? Kata papi sih dijalanin dulu. Dan pengobatan kitapun berakhir hari itu. Dokter meminta kita untuk kontrol 3 bulan lagi.

Penang sendiri ga ada tempat wisata yang berarti lah.. Hari-hari kita dihabiskan di pantai, makan, mall. Ada juga kunjungan ke Penang Hill ato Bukit Bendera. Jadi nextnya kata papi kalo kontrol nanti cukup berdua aja. Either madam ato papi yang temenin Cece. Bawa Jeje ke hawker centre pun bukan tanpa perjuangan. Karena Jeje ga makan jadinya dia ngajak keliling. Belum lagi hobinya naik turun tangga, dorong-dorong kursi, tebar pesona ke pengunjung, dan sebagainya dan sebagainya. Cukup hari pertama kita ke hawker, selebihnya kita memutuskan untuk take away saja 😛

 

Untuk referensi saja biaya pengobatan per Nov 2013 adalah sebagai berikut:

Biaya registrasi : MYR 13 (pasien baru) MYR 7 (next visit)

Biaya konsultasi : MYR 70 (kunjungan pertama) MYR 40 (kunjungan follow up)

Treatment Room Supply + Procedure  : MYR 160 + MYR 90(untuk skin prick)

 

Bagaimana seterusnya? Apakah pengobatan ini berhasil? Tobe continued.

 

 

 

 

 

 

5 thoughts on “Berobat ke Penang

  1. sekarang rata2 kalo mau berobat ato sekedar check up, larinya ke penang ya, uda jarang yg ke singapore… nyokap juga kemaren itu abis check up di penang… itu jalanan dr KL ke penang mirip kayak tol di bali hehehe…

  2. Iya gua inget waktu bayi charm mukanya merah2 alergi. Perjuangan ya yul, gua yg gede aja menderita rasanya apalagi charm.
    Waktu kecil gua jg ingusan gak brenti tapi udah gede mendingan sih yul
    Oiya dulu bokap beliin gua bantal bulu angsa katanya pilek gua mendingan, tp akrg udah ada latex mungkin lbh menolong ya.

Leave a Reply

Your email address will not be published.