From Nothing become Something

Kemaren sempat heboh berita kalau ada tour guide Hongkong yang meminta maaf ke publik dikarenakan memaki turis Mainland yang tidak berbelanja dan disebar ke publik sayang saya tidak ada videonya, hanya bisa share newsnya. Tidak bisa dipungkiri bahwa kalau misalnya benar Mainland bikin travel warning ke Hongkong, sumbangan terbesar pariwisata buat Hongkong bakal lenyap tuh saat itu juga.

Dibenci namun dirindukan begitulah para turis Mainland tersebut. Saya ingat sekali bahwa dulu orang Mainland sering dicela karena mereka terkenal berisik (apalagi kalau sedang memakai HP) dan  suka meludah. Cewek-ceweknya juga terkenal norak kok. Bayangkan aja masak naik ke Great Wall pakai hak tinggi 10cm?

Namun, singkirkan pikiran tersebut jauh-jauh sekarang. Saat kunjungan ke Swiss awal tahun yang lalu benar-benar membuka mata saya. Sejumlah merk jam Swiss yang terkenal seperti Longines (Aaron Kwok), Omega (Zhang Ziyi) dengan bangganya memasang papan iklan segede-gede buta di jalan utama Swiss dengan muka-muka Aaron Kwok dan Zhang Ziyi. Ada juga Carina Lau yang saya lupa adalah Brand Ambassador untuk jam merk apa. Mata terbuka lebih lebar lagi saat mengetahui bahwa toko jam terkenal Bucherer di Lucerne mempunyai shop keeper yang fasih berbahasa Mandarin. Jangan shock lho kalau orang Mainland tersebut keluar membawa tentengan jam Rolex yang berharga ribuan bahkan puluhan ribu Euro. Di sekeliling Swiss jangan ditanya lagi keberadaan the Mainlanders sepanjang Swiss. Di Mount Titlis, sudah pasti melimpah, foto-foto (well, at least udah ga teriak-teriak dan meludah lagi sih), terus pinjem alat ski para pen-ski sambil mejeng. 😀 Atau kalau ga, ajakin para pen-ski buat foto sambil bikin tanda V. :D, sehabis dari situ jangan tanya lagi dimana saya bisa bertemu mereka, every tourist city seperti Lucerne, Lausanne, or Geneve. Yang paling lucu pas ketemu di Museum Olympiade di Lausanne. Ditanya sama tur guidenya, mau masuk ga? Terus kata Bosnya : Bu qu. you shenme hao kan de! (Ga mau, mau lihat apa di dalam?) Yee ngapain juga ke sini kalau gitu?

Dimanapun kaki melangkah pasti sering bertemu orang Mainland, mau dari tempat terdekat saya macam Apartemen Mediterania Tanjung Duren, setiap pagi pemandangan adalah orang Mainland yang berbaris menunggu dijemput. Tak berapa lama saya pun tahu bahwa mereka sepertinya adalah guru yang mengajar di sekolah internasional dan Taman Anggrek karena para Mainlanders tinggal disitu sepertinya bekerja di perusahaan IT apa gitu. Saat berbelanja di Pasar Kopro pun jangan salah, the Mainlanders is all around.

Melangkah dari rumah, pasti kantor dong. Jangan ditanya lagi kantor saya ada berapa Mainlandersnya, wong yang punya juga mereka kok. 😀 Yang paling menakjubkan adalah pemandangan di Gedung BRI dimana baru kali itu saya melihat the Mainlanders berduyun duyun turun dari bus buat masuk ke kantor. Busyet.. ck ck ck.

Saya tidak tahu sih perkembangan sekarang tetapi terakhir menemani tamu ke Bali, gayanya masih sama. Mau ke pantai kok gayanya kaya mau ke kutub. Takut panas dan takut hitam. (Well, mungkin tamu yang saya temenin kemaren aneh aja kali ya?) Pakai topi, tangan panjang, kaos kaki lengkap dengan payung. 😀 😀 😀 Terus saya juga bingung yah, pengertian mereka akan baju santai itu berbeda dengan saya ya. (well, mungkin di pikiran saya baju santai itu adalah kaos, jeans n knickers ya) tapi kalau misalnya kemeja, celana kain dan sepatu pantofel mostly menjadi pilihan mereka saat ke Bali, ya menurut saya beda saja dengan baju santai pilihan saya saja. 😀 Sekarang sih denger-denger Mainlanders tambah banyak aja di Bali cuma ga tahu deh gaya berpakaiannya bagaimana.

Agak jauh dikit, ke Hongkong deh. Mainlanders juga banyak nih. Apalagi zaman-zaman Hongkong Disneyland baru dibuka. Kayaknya warning sign disitu dibuat khusus buat the Mainlanders deh macam No Smoking! No Spitting!! 😀 Apalagi saya masih ingat di zaman itu masih banyak berita yang mengeluhkan kelakukan Mainlanders yang membuat Disneyland bo hwat! (give up) Bahkan ada berita juga lho tentang turis yang kencing sembarangan. Kedua kali saya ke Disneyland lagi, diadakan bag search dimana pengunjung ga boleh membawa makanan. Yang paling banyak kena sita? Ya pasti the mainlanders dong. Beraneka snack khas dapat ditemukan macam kacang, keringan tahu, bacang instan, juhi, dll. Heboh banget dan yang pasti bikin antrian.

Terus kemana lagi bisa ketemu mereka, coba deh lihat butik-butik macam LV or Prada (kalau di Eropa, masuknya agak bebas), pasti dipenuhi dengan suara yang saya kenal dan bisa ditebak asal mereka. (FYI: I know how to differentiate Chinese Mainland, Chinese Taiwan, or other Chinese. Don’t ask why, I just know how 🙂 )

Tapi, harus saya akui sih, China is great, penataan Olympiade 2008 yang sedemikian megahnya berikut Shanghai Expo yang bisa membuat orang berbaris berjam-jam telah membuat China semakin raksasa dan membuka mata dunia akan keberadaan mereka.

Begitulah keadaan sekarang, from Nothing become Something. Dibenci dan dihina namun dicintai kini. Bahkan Jepang yang dulu dimusuhi pun sekarang sangat dinanti-nantikan di Jepang. Sepertinya negara yang tidak memerlukan turis China hanya Taiwan karena tour guide saya yang di Taiwan sepanjang jalan Anyer-Panarukan (emang ada gitu) kerjaannya adalah mencela orang Mainlanders (dendam kesumat) kayaknya.

9 thoughts on “From Nothing become Something

  1. Iya, gua baca tuh beritanya di kompas.

    Namanya kan juga baru punya duit, baru boleh foya2, baru boleh bebas. Gua rasa ke depan2nya pasti mereka bisa lebih baik lagi.

  2. Hehehe, jadi inget temen gue kmarin cerita. Kalau dia pergi ke wedding one of the richest person in Hong Kong. Tamunya private cuma 40-an orang. Sebagian itu tamunya dari Mainland. Mereka katanya di Mainland gak bisa pake kartu kredit. So, dari Mainland, mereka bawa berkoper koper UANG TUNAI untuk shopping di Hongkong. EDAN !

Leave a Reply

Your email address will not be published.