Nothing is Perfect

Kalau dipikirkan akhir-akhir ini bisa santai sekali kalau mau business trip atau jalan-jalan, saya sering flash back lagi ke beberapa tahun yang lalu dimana sering panik sendiri kalo mau jalan-jalan. Parno sendiri bahkan semua-mua mau dipacking takut ada yang ketinggalan. Teringat saat-saat pertama kali ke luar negeri di 2002, ke KL dengan Mama yang sudah senior. Bawaan saat itu adalah 1 tas pinggang tempat simpan passport dan uang, 1 back pack dan 1 koper dan di sisi lain, juga musti take care koper Mama. Saat masuk jalan ditanya sama sopir, terminal 1 apa 2 Bu? Panik, bingung, ga ngerti mau kemana. Ga ditulis lagi di tiketnya. Terus inisiatif nanya ke travel dijawab terminal 1. Tiba disitu ternyata salah. Panik. Terus tanya bagaimana cara ke terminal 2 dijawab bisa pakai bus shuttlenya Blue Bird. Dicari deh, ketemu sih terus naik. Setengah jalan tambah panik. Ternyata tas pinggang ketinggalan di scanner machine Terminal 1. Gubrak. Langsung lari ke depan bilang dengan sopir busnya sambil teriak-teriak: Pak, ayo dong balik ke terminal 1 langsung, tas saya ketinggalan ada passport sama uang. Ayo dong Pak. (Bayangkan film Speed Keanu Reeves dimana saya memaksa sopir untuk jalan namun dia harus menjemput penumpang dari terminal 2 ke terminal 1. Ditambah, lewat HT dia dipanggil karena tidak berhenti) :D. Tutup kuping aja deh saat disindir ama Pak Sopir: Waduh saya bisa dipecat nih Bu. Waduh gimana dong Bu, lain kali hati-hati yah! Puji Tuhan, tasnya ga diapa-apain dan saya mengambil tas tersebut dengan senyum-senyum. Senyum itu semakin melebar saat saya kembali naik bus shuttle ke terminal 2 dan ketemu si Bapak Sopir yang tadi yang menyambut saya dengan pertanyaan: Gimana? Ketemu? :D. Dengan tidak mengurangi keramahannya saat turun dia menyampaikan pesan sponsor: Awas jangan ketinggalan lagi…. Wokeh de Pak, Makasih yah ….

Masih di trip yang sama, kali kedua jantung saya kembali diserang dengan pengalaman di airport. Kali ini di Airport Penang. Saat itu sistem ticketing online belum begitu dikenal luas seperti sekarang. Iseng search di airasia dapet deh flight “0” (zero) dari KL-Penang-KL. Flight KL-Penang nya berjalan dengan lancar. Masalah timbul saat akan pulang. Di saat itu, sistem tiketnya adalah sistem akan mereferensikan penerbangan termurah saat itu (zero cost) meskipun itu adalah di hari berikutnya atau di 2 hari berikutnya. Nah, karena sifat kiasu saya yang amit-amit, langsung jebret lah tuh tiket tanpa doble cek ke tanggal. Flight pulang tanggalnya salah. Nah,saat check in ke airport, tanya ke petugas: Has the flight for 3 pm check in yet? Dijawab petugas sambil bingung-bingung: Not yet. Ga berapa lama duduk nunggu dipanggil lagi sama petugas: Can I see your ticket? Abis dikasih dia bilang: I’m sorry Mam but the ticket is for tomorrow. Mampus ga coba? Kalau ga kuat iman, pengen pingsan on the spot. Cooling down, tanya petugas dan dijawab bahwa flight selanjutnya adalah jam 11 malam dan gw musti nambah USD 200. Alternative lain adalah membiarkan tiketnya hangus dan pulang ke Penang malam itu dengan bus. Akhirnya, panggil taxi minta diantarkan ke agent bus terdekat dan beli tiket ke KL sore itu juga. (harap dicatet ya kalau saat itu Mama masih rela diseret-seret oleh anaknya yang sok tahu ini) 😀 Dan drama berakhir di jam 11 malam saat tiba di stasiun Pudu Raya dan dengan rela dipalak oleh sopir taxi di situ untuk naik taxi tanpa argo.

Dengan jam terbang yang lumayan tinggi di beberapa tahun berikutnya saat trip ke Hongkong (masih dengan Mama tercinta), jangan kira drama tidak berulang. Untuk ketiga kalinya jantung diserang dengan tidak kalah hebatnya. Saat ini sangat-sangat fatal. Apa itu saudara-saudara? Passport ketinggalan di safety box 😀 HEbat kan??? 😀 Kapan saya sadar hal itu terjadi?? Adalah saat akan check in. Akhirnya, mama saya tinggal di airport dan saya naik airport express. Setelah nafas mau putus karena interchange di Hongkong Central itu sumpah jauh banget dan perjalanan itu harus diulang 2 kali, akhirnya passport didapat di tangan. Saat akan check in, jangan harap masalah selesai. Tidak saudara-saudara, pesawat didelay dari jam 3 sore ke jam 11 malam. Sempurna kan penderitaan ini? 😀 Tau gitu ngomong ke mau delay, kan ga usah lari-lari tadi.. hu hu hu

Jam terbang semakin tinggi ditambah dengan informasi di internet yang semakin canggih membuat saya sering membaca dan membaca informasi tentang keberangkatan meskipun ga begitu detil. Kalau business trip sih ga begitu pusing akan kejar mengejar jam keberangkatan karena biasanya boleh sewa limosin (catet, limosin :D) untuk antar-jemput ataupun diantar sama mobil kantor pusat.

Lari-lari di China juga pernah kok. Saat saya personal trip ke Shanghai setelah business trip dari Beijing, saya boleh reschedule jam keberangkatan ke pesawat yang akan boarding 15 menit lagi. Tentu saja ditambah drama lari-lari, akhirnya sampai juga deh di pesawat. Gilanya lagi, saya tukar pesawat udah kayak tuker bus aja. Tiket ga diprint ulang, hanya ditulis tangan dikasih boarding pass langsung.

Setelah menikah dengan suami yang hobi jalan-jalan juga, hidup tambah tenang deh karena yang survey adalah do’i. Dengan kondisi yang tidak perlu diragukan, kali ini tripnya pun bisa membuat saya jantungan. Dua kali bahkan. Kali pertama saat hendak mengejar penerbangan dari London-Roma. Karena kita mengambil low cost airline, airportnya bukan di Heathrow melainkan di Luton. Sehari sebelumnya kita sudah tinggal di hotel airport untuk mengejar penerbangan jam 7 pagi. Bangun jam 4 jalan jam 5 pagi kurang (dibawah suhu minus) menyeret koper untuk ke airport. Jangan bayangkan kalau hotelnya ada di dalam airport, hotelnya berjarak 10 menit jalan kaki dengan ukuran kaki orang bule 😀 jadi kalau saya sama suami jalan, kira-kira 15 menit lah. 😀 Sudah check in, kita dihadapkan dengan kenyataan bahwa security check di Inggris gila-gila ketatnya. Jaket, tali pinggang, jam tangan, aksesoris lain, sepatu boot bahkan kaos kaki harus dilepas. Saya perkirakan disini antriannya sendiri ada 1 jam kali. Lepas dari jebakan Batman kali ini kita masuk ke jebakan Superman yaitu gate untuk low cost airline itu ada di ujung.. ujung sekali……… Pagi-pagi fitness lagi deh, lari sekencang-kencangnya karena 15 menit lagi pesawat sudah mau take off. Huff huff huff…. ternyata pesawat dengan setia menunggu kok bahkan ada yang lebih telat dari kita.

Drama terakhir pun menyempurnakan perjalanan dari Venice ke Paris. Secara di Eropa yah, kan ga mungkin naik taxi, hanya bisa mengandalkan bus. Naik bus pasti ada intervalnya dong. Belum lagi kalau ternyata airport di tempat itu ada 2, 1 buat domestik, 1 lagi buat antar negara. Jangan tanya deh perasaan saat itu, kalau ga salah 1 jam sebelum keberangkatan bus belum tiba juga. Duh, pusing, deg-degan, bingung. Lari-lari dong?? Pasti.. Mau tahu apa yang bikin kesal? Karena saat itu lupa print out tiket, kita mengandalkan data di HP dengan layar kecil. Ternyata apa saudara-saudara?? Pesawat yang kita pikir take off jam 8 ternyata jam 9 baru take off. Lihat-lihatan sama suami lalu hahahahahaha ketawa guling-guling di depan meja check in… (Upps bulenya bingung, untung ga dilaporin dikirain orang gila).

Sudah selesaikah cerita ini? Belum-belum ..   Masih ada edisi dimana saya hamil gede tapi maksa mau jalan-jalan dan kucing-kucingan dengan petugas airport Hongkong. Ketakutan ini disebabkan oleh dokter kandungan saya yang bergelar dr. Med yang bilang kalau saya akan diusir karena takut nanti saya melahirkan disitu dan jadi warga negara disitu. Akhirnya, kucing-kucingan deh dengan memakai jaket yang super dupper gede buat nutupin tuh perut. Hebatnya lolos lho 😀 (or emang dokternya doang sih yang parno padahal mah boleh-boleh aja kali)

Gambar diambil dari google image

5 thoughts on “Nothing is Perfect

  1. seujmur idup sport jantung cuma gara2 si opan aja nich! nunggu dia itu lambreta, untuk sekali kejadian, mudah2an si Buled bisa sadar tuh! dia itu ngaret na parah banget, paling aman emang pergi ama bonyok yang bukan tukang ngaret dan apik banget hahahaha 🙂

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *