Sawasdee Krap .. Sawasdee Kaa

Hello – Sawasdee Krap (male) Sawasdee kaa (female) Note: The “s” in the middle of the word “Sawasdee” is silent.

Pertanyaan yang paling banyak saya dengar teman-teman saya tahu bahwa saya ke Bangkok adalah : bagaimana kondisi sehabis pasca bom? ga takut nih? serem ga?

Versi Ok nya Bajaj
Versi Ok nya Bajaj

Dan pertanyaan tersebut akan saya jawab dengan “Biasa aja.” Agak sedikit merepotkan dengan pengecekan tas di pintu masuk BTS dan pintu masuk mal. Hanya saja sebagai rakyat Jakarta yang setiap hari tasnya diperiksa (tanpa dilihat), sepertinya hal ini menjadi pemandangan yang biasa.

Pemandangan yang tidak biasa disini adalah saya senang bahwa turis asing dapat menemukan kebebasan menjadi turis dengan Tshirt dan celana pendek plus fitflop tanpa diikuti oleh tatapan aneh warga lokal dan teriakan “Mister, picture Mister”, seperti yang masih saya temukan di Jakarta.

Bangkok relatif bersih meski kemacetannya tidak lebih baik dari Jakarta. Pedagang Kaki Lima pun merajalela dimari namun, pejalan kaki masih bisa berjalan tanpa bersinggungan dengan jalan raya dan yang saya lihat mereka ga nyampah di jalan.

Bagaimanapun semerawutnya, Bangkok tetap berkesan buat saya. Meski ke stasiun BTS saya musti mendaki tangga yang terjal-terjal namun ternyata semuanya terbayar dengan cobain Thai Massage atau refleksi kaki yang nampol. Beneran nih klo ke Bangkok ga cobain massagenya, rugi besar saudara.

Fashion di Bangkok juga bagus-bagus. Baju anaknya buatannya halus halus, harganya tidak sembarang diset supaya terjadi tawar menawar alot namun sudah dirancang hanya bisa turun paling banyak THB 50. Cocoklah buat bukan tawar seperti saya. Pastikan badan Anda di kisaran ideal karena rata-rata baju disini tidak bisa dicoba. Ada 4-5 toko yang begitu sih sehingga akhirnya saya tidak tertarik juga membeli baju disini karena tidak dikasih coba.

Karena dadakan planning perginya juga, kita lupa kalau Chatuchak itu adanya di weekend. Tahu gitu kan bisa berangkat hari minggu ya, jadinya kita ga merasakan deh serunya Chatuchak itu.

Makan, makan dan makan…

Suamiku yang lucu itu seleranya agak berbeda sama saya. Saya cenderung pengen tahu dan suka mencoba makan. Masalahnya ada di variasi makanan banyak dan saya pengen cobain tapi bingung mo sharing sama siapa. Bukannya sombong tapi semenjak diet dan disiplin makan sehat, perut saya agak sedikit lebih cepat penuh (panjang amat tulisnya ci…) kapasitasnya. Kalau pagi, sarapan disini nampaknya mie/kuetiau/nasi berkuah atau kueh kueh khas Thailand yang menurut saya manis. Makanya .. saya bilang apa.. jangan diet deh, bikin susah hidup ajaa. Saya ga napsu sama makanan beginian, akhirnya memilih roti di Sevel dan di hari terakhir berhasil menemukan Mc Donalds dan ketemu Pie pujaan hati.

Ga  ada di Jakarta.. Why?
Ga ada di Jakarta.. Why?

Ini contoh sarapan kaki 5 (yang cobain Papi) kuetiau pakai kuah tomyam plus jerohan porky dan kangkung. Kuahnya ditaburin kacang juga. Enak sih ini tapi mental saya belum cukup kuat disuruh habisin satu porsi sendiri.

Macem Kuetiau Lah..
Macem Kuetiau Lah..

Buat lunch, kami randomly memilih restoran yang kami temui. Kebanyakan yang gampang dipesan itu Pad Thai karena rata-rata yang jual ga bisa Inggris sehingga kami main tunjuk foto. Daripada yang keluar salah, pilih Pad Thai nampaknya aman. Suka banget sama togenya yang ga bau toge mentah berikut juga kacangnya yang cruchy. Tadinya saya pikir bakal pedes banget namun rupanya ga pedes.

Pad Thai
Pad Thai

Papaya Salad juga enak. Tadinya mikir disini bakal ketemu sama Mango Salad tapi rupanya pengalaman empat hari hanya menemukan papaya salad dan itupun hanya makan sekali

Papaya Salad
Papaya Salad

Setiap orang yang kemari pasti pada pameran Mango Sticky Rice sampai akhirnya saya cobain sendiri. Ternyata beneran enak! Mangganya manis, ketannya pulen dan santannya harum. Selama empat hari tiga malam dimari, saya makan 3 porsi saja saudara-saudara **kalem. Rasa mangga thailand itu kata saya lebih mirip mangga golek deh. Ini saya pajang fotonya mangga aja karena saya belinya malam dan kondisi foto low light selalu membuat saya frustasi jadinya pajang yang pasti aja.

Mango Sticky Rice Stall
Mango Sticky Rice Stall

Oya.. ini juga enak nih. Oyster egg mirip-mirip makanan di Hawker Singapur sih ya tapi oyster dimari banyak deh jumlahnya terus tepungnya dibuat rada krispi dimana kalau di Sing/KL kan rada lembut ya.

Oyster Egg
Oyster Egg

Juara dari semua es krim, coconut es krim… Es krimnya sih model es podeng diisi ke dalam batok kelapa yang dagingnya bisa dikerok. Manteplah ini mang.

My Love ..
My Love ..

Ini spring roll beli sepiring isi 10 isinya macem macem. Rada plain, cocok nih buat diet karena dalemnya juga isinya sayuran mentah atau udang rebus atau jamur gitu. Cocok buat diet pastilah ga enak rasanya 😀 😀 **pengalaman untungnya dia dibantu cocolan cabe hijaunya tuh. Seger asem-asem pedes

Sejenis Spring Roll
Sejenis Spring Roll
Durian Sticky Rice
Durian Sticky Rice

Di Bangkok, saya brutal sekali dengan Swensen’s hihi makan ini kembali ke masa kecil dimana berasa sudah jadi orang kaya kalo bisa makan disini. Apalagi dulu ini letaknya ada di mal yang pertamaaa banget ada di Palembang, namanya IP (international plaza) yang untuk naik eskalator aja harus ngantri panjang.

A childhood memory
A childhood memory
Bawahnya sticky rice ditopping dengan es krim duren montong
Bawahnya sticky rice ditopping dengan es krim duren montong

Pilihan saya di Swensen’s adalah local tastenya yaitu Durian Montong 😀 Hanya sempat dua kali kemari dan yang kedua saya sharing sama papi untuk pancake ini

Pancake diisi sticky rice, saosnya duren, dengan es krim duren montong
Pancake diisi sticky rice, saosnya duren, dengan es krim duren montong

Thai Massage

Belum pernah sekalipun saya di Thai Massage 😀 😀 Biasanya saya cobanya pijat minyak yang ala Jawa gitu, sekalipun pernah coba yang beda itu Bali Massage tapi itupun mirip Jawa punya.
Kalau ditanya apa rasanya, saya bilang TOP BGT lah. Tadinya cita-cita luhur kita setiap malam mau dipijat karena ketagihan hihi tapi di malam ketiga sepulang dari Ayutthaya sudah kemalaman sehingga pijatnya cukup dua kali saja, yang satunya malah saya cobain refleksi kaki. Entahlah kaki saya diapain tapi keluar dari situ saya merasa seringan bulu.. **lebay**

Pijat Refleksi
Pijat Refleksi

Wat Pho

Apa arti ke Thailand tanpa ke kuil. Kalau turis ke Bangkok pasti diarahkan ke Grand Palace, namun kali ini kita memilih Wat Pho. Dari BTS kita melanjutkan perjalanan menggunakan kapal. Ajaib deh bisa menemukan moda transportasi begini.

Water Bus (istilah saya)
Water Bus (istilah saya)
Ngeteng di kapal .. hanya ada di Bangkok
Ngeteng di kapal .. hanya ada di Bangkok

Watnya bagus deh desainnya, berlatar langit biru, foto kita hari itu pun bagus-bagus. Ketemu banyak rombongan ibu-ibu Indonesia disini yang wara wiri dengan tongsisnya.

bkk3

bkk2

Ada Nyonyah :D
Ada Nyonyah 😀
THB 100 saja
THB 100 saja

MBK dan Platinum Mall

Suka sama konsep kedua mall ini. Tertata rapi, AC nya dingin, dan bebas asap rokok. Model baju-bajunya juga saya suka dan dibanding fashion Korea, saya lebih suka model fashion dimari. Di Jakarta sekarang banyak banget pop up market di mal dimana banyak stand-stand yang jualan baju, kayaknya mereka ambil di Bangkok deh, soalnya model yang saya lihat disini mirip banget sama yang saya suka lihat di bazaar bazzar Jakarta. Fashion Bangkok cocok lah untuk orang Indo dan harganya juga bersahabat. Tidak banyak foto dimari karena memang kita hanya fokus untuk belanja. 😀

Floor Directory Platinum
Floor Directory Platinum

Asiatique

Untuk menuju ke Asiatique ini kembali kami menggunakan kapal namun kali ini gratis. Tadinya saya kira Asiatique itu pasar malam taunya ini mah model mal juga hahhaa (ketauan turis ga survey)

Sempat keliling kesini mencari makanan tapi kok tidak menarik hati ya sampai akhirnya kita kembali ke selera rakyat yang ga bakal bohong punya! Ayo salaman sama Uncle KFC

Local Taste ! Yummy
Local Taste ! Yummy

Mencari sesuatu yang local di KFC, kami menemukan ayam with Thai salad ini. Benernya chickennya digoreng tapi karena habis ditawarin yang Grilled. Saladnya seger rasa asem seimbang dengan pedas manis dengan dominasi rasa bawang bombay jadi pastikan ngomongnya yang kalem ya kalau habis makan ini.

Selanjutnya kami keliling dan disini banyak juga local stand. Kalau kata papi, disainnya mirip Chatuchak disini.

Depannya Asiatique
Depannya Asiatique

DSC05662

DSC05669

Benar atau tidak mirip? Dikarenakan saya belum melihat Chatuchak, selalu ada alasan untuk kembali bukan?

Terima kasih sudah membaca Madamkoo and Have a Blessed Day my friends …

10 thoughts on “Sawasdee Krap .. Sawasdee Kaa

  1. gimana? cocok ga sama bangkok? pengen kesana lagi ato cukup sekali aja?
    gw 2x masup grand palace.. dan mungkin aja kesana lagi :p
    dulu udah jadwalin ambil thai massage tapi ga kesampean, nanti kudu diniatin ah 🙂

  2. Hayoo balikk lagii yukk ke bkk..gua udah 3 kali pun belon pernah ke chatuchak…kan ngeselin yaa…harus balik lagi dehh…*tikett manaa…manaa tikett!

  3. Jd mupeng ke sana lagi nih madam, dulu kesana jaman tahun 2004, dan masih ada loh tas bordir beli di MBK yg masih awet dipake sampe sekarang 🙂 cuman memang jd parno aja karena bom, jd ragu terus 🙁

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *