Do you know the name?

Agar tahu pentingnya waktu SETAHUN, tanyakan pada murid yang tinggal kelas.
Agar tahu pentingnya waktu SEBULAN, tanyakan pada ibu yang melahirkan bayi prematur.
Agar tahu pentingnya waktu SEMINGGU, tanyakan pada editor majalah mingguan.
Agar tahu pentingnya waktu SEJAM, tanyakan pada kekasih yang menunggu untuk bertemu.
Agar tahu pentingnya waktu SEMENIT, tanyakan pada orang yang ketinggalan pesawat terbang.
Agar tahu pentingnya waktu SEDETIK, tanyakan pada orang yang baru saja terhindar dari kecelakaan.
Agar tahu pentingnya waktu SEMILIDETIK, tanyakan pada peraih medali olympiade.

Pernah dengar perumpamaan di atas kan? Nah, kalau versi saya yang mau saya tujukan kepada salah satu Oknum “Agar tahu pentingnya waktu SEJAM tanyakan kepada 14 orang penumpang yang terlunta lunta di Changi pada tanggal 19 October 2011”. 🙂 🙂 🙂

Sebagai bukan seorang yang pertama kali bepergian, rasanya semua prosedur travelling dengan pesawat terbang sudah saya hafal dengan baik. Asal dipastikan dokumen lengkap, tidak terlalu banyak bawaan yang pritilan (selalu dalam satu koper besar), dan tidak overweight rasanya kita juga tidak akan dipersulit dalam bandara. Berbagai tipe pemeriksaan imigrasi juga sudah saya jumpai. Dari yang hanya cukup memasukkan bawaan ke mesin scanner atau sampai yang disuruh melepaskan jaket, kacamata, ikat pinggang, sepatu, kaos kaki juga pernah saya temuin. Ada juga imigrasi yang membawa masuk seseorang yang paspornya hanya bernama “Benny” kedalam ruang interogasi dan menasihatinya selama 20 menit dikarenakan menurut petugas imigrasi bahwa namanya terlalu pasaran dan mudah dijadikan objek penyalahgunaan identitas oleh siapapun yang tidak bertanggung jawab.

Saya juga tidak pernah takut dengan petugas airline, menurut saya mereka lah yang harus diapresiasi karena selama travelling, mereka lah yang memegang peranan paling penting dalam perjalanan dengan pesawat terbang. Apalagi begitu sampai di Changi Singapore, saya kagum dengan staff nya yang sangat sigap dan rapih dalam bekerja. Oya, saya juga suka dengan film Terminal-Tom Hanks, dimana typical film Tom Hanks kali yah, mau di pulau terpencil kek, di airport yang sepetak kek, tetep aja ceritanya menarik dan tidak membosankan untuk diikuti.

Tapi, siapa tahu bahwa di tanggal 19 Oct kemaren, mimpi terburuk saya selama travelling justru terjadi di Changi? Sebuah bandara yang flawless menurut saya. Paling rapih, paling modern, paling mengesankan, dan paling paling yang lainnya. Bermula dari delay pesawat Jakarta-Singapura selama 1 jam dengan alasan yang tidak diketahui sama sekali dan dengan sisa sekitar 1jam10 menit kami berlarian menuju transfer desk untuk memperoleh boarding pass untuk Singapura-Auckland. Jantung mau copot saat kami tahu bahwa petugas transfer menolak kami dengan alasan kami terlambat dan check in counter sudah tutup. Petugas yang tidak bertanggung jawab itu pun meminta kami untuk keluar imigrasi dan check in dari tempat keberangkatan. Tentu saja waktu yang diperlukan semakin banyak dan pada saat kami tiba disana petugas juga menolak kami. Kitalah yang disalahkan. Katanya “Kalau mau masuk, ya datang pagian dong!” WTH??? Lu pikir gw baru pertama kali terbang apa? Yang lebih konyol lagi, petugasnya berkata bahwa pesawat yang mengangkut kami dari Jakarta adalah perusahaan yang berbeda dengan pesawat yang akan membawa kami ke Auckland. Padahal jelas-jelas kok logo pesawatnya itu bintang kuning. Kecuali kami orang bodoh yaaa yang ga bisa bedain katakan kita naik Garuda tapi check in di counter SQ gitu misalnya. Mereka memakai nama yang sama, logo yang sama, satu-satunya yang membedakan adalah yang satu memakai kata “Asia” dan yang satunya lagi “Australia”.

Berdebat pun tak berguna. Bagaimanapun, yang lemah tetap menjadi korban. Masalah pun timbul saat tahu bahwa flight ke Auckland bukanlah daily flight dan kita harus menunggu 2 malam di Singapura untuk terbang pada Jumatnya. Konsekuensinya, connecting flight ke Christchurch, sewa mobil, dan sewa hotel pun hangus. Ditambah lagi dengan mengeluarkan uang extra untuk membeli tiket ke Queenstown agar kita tidak kehilangan terlalu banyak hari.

Apakah saya pernah membayangkan hari itu akan terjadi? Mana pernah? Dan saya pun ketok meja 30x ketok kursi 50x amit amit jabang bayi jangan sampai yang beginian terjadi lagi. Sekarang mau nulis complaint di website tidak ada alamat email. Yang ada hanyalah form online yang setiap kali disubmit keluar pesan errornya. Alternatif lain adalah menulis surat dan mengirimkan lewat pos ke alamat POBOX yang sampainya juga hanya Tuhan dan yang terima yang tahu keberadaannya.

Kompensasi dari airline juga bukannya tidak ada, kita diinapkan di hotel resort di Sentosa. Catat ya… di Sentosa lho… Pasti mikirnya mewah kan?? Mewah sih iya tapi ini hotel letaknya di ujung berung means yahhh gitu deh jauh kemana-mana. Makan pagi, siang, dan malam berikut dengan transport from and to airport. Oh, ada satu lagi yang konyol. Jadi saat pesawat kita dipindahin ke tanggal 21, kita dikasih business dan duduk di row 4. Nah, pas check in, ternyata business class full dan menurut petugas check in diberikan kompensasi berupa voucher. Kita tanya dong, mana buktinya? Dia meminta kita menelepon ke nomor Jetstar bebas pulsanya untuk mengecek. Saat kita coba menelepon, antriannya aja 30 menit untuk dilayani dan di tengah2 waktu menelepon, jaringan putus? Keren kan?? Dan pada tahu ga? Staff yang janjiin kita voucher ini adalah staff yang menolak kita di transfer desk di tanggal 19. Kurang keren apa lagi coba?

Staff Changi yang sangat helpful juga mencoba menolong kami selama kasus ini terjadi. Tapi mereka pun tidak bisa berbuat banyak. Mereka selalu meributkan “Do you know the name?” Astagaaaaaaa, kalo staffnya secakep Hyun Bin gitu yah.. baru deh ntar diajak kenalan. Tapi saat saya perhatikan, namanya sama sekali ga bisa dilihat. Check in desk staff bukan memakai name tag yang disematkan di baju tetapi berupa ID Card holder yang digantungkan model karyawan gedung gitu lho. Dan saya perhatikan, rata-rata ID nama ini dibalik sama staffnya (entah sengaja entah bukan ya.. maaf aja kalo nuduh). Jadi lesson to learnt dari postingan ini apa?? Coba kenalan deh sama staff check in kalau perlu diajak foto sekalian siapa tahu berguna. Berguna untuk kenalan siapa tau jodoh! Berguna untuk cari info di FB siapa tahu naksir tapi ga berani ngomong!! dan yang terakhir dalam kasus saya berguna kalau ditanya saat complaint “Do you know the name??” YESSSSSSSSSSS, NOT ONLY THE NAME I ALSO HAVE THE PICTURE!! PUAS?? PUAS????

14 thoughts on “Do you know the name?

  1. aduuh… klo ngedumel serem ih ci… 🙂
    tapi baca ini aku jd ikutan jengkel deh…

    serius itu tipsnya utk kenalan dan foto bersama mau aku praktekin ajah sapa tau ketiban sial jg suatu hari nanti

    *ketok meja 100x, ketok pintu 200x*

    😉

  2. g kan pernah kejadian juga tuh 90min sampe sana, udah ga bisa check-in dan kek na g pernah share juga deh! waktu itu penerbangan dari SG-JKT, untung na bisa pura2 begok dan ga tau klo jadwal di geser, dapet tiket gratis penerbangan berikutnya ^^
    dan klo masalah nama, penggalaman XXI kek na g perlu catet nama dan photo sekalian juga, biasanya susah di awal terakhirya happy ending donk yah 🙂 *ga sabar nunggu kelajutan cerita*

  3. ya ampun… jadi ribet gitu ya…

    yah tapi emang masalah delay sih bisa aja terjadi ya di airline apapun.
    gua pas pertama kali ke US naik SQ dari changi pun delay 1 jam…
    padahal sQ lho… hehe

  4. Yul, elo biar marah2 tapi tulisnya lucu.. *piss* Tapi nyebelin amat ya, di awal acara jalan2 lagi, mudah2an selanjutnya lancar.

  5. astaga, kalo gua jadi lu gua bisa tetep positive dan melanjutkan perjalanan gak ya? jangan2 gua bete berat trus batal lagi..
    bintang kuning itu apaan sih? j*t***r?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *